Mataram, Minggu (18 April 2010)--Salah satu dari sekian banyak persoalan di dalam dunia pendidikan adalah terkait disparitas. Merupakan tugas semua untuk memperkecil gap di dalam disparitas pendidikan. Caranya tidak hanya ditempuh menggunakan pendekatan alami saja, tetapi melalui intervensi dengan pendekatan afirmatif.
Hal tersebut disampaikan Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh saat memberikan Ceramah Umum di Universitas Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), Minggu (18/04/2010) .
|
"Meskipun afirmatif itu diskriminasi, keberpihakan itu diskriminasi. Kalau kita memberikan beasiswa hanya untuk anak miskin itu diskriminasi, tetapi afirmatif diskriminatif yang positif tidak apa-apa," kata Mendiknas.
Mendiknas menyampaikan, berdasarkan sebuah studi, kelompok masyarakat yang saat ini berada di tingkat menengah atas, pada 15-20 tahun yang lalu, kebanyakan adalah kelompok menengah bawah. Demikian juga halnya dengan mahasiswa. "Mahasiswa sekarang sejak tahun 90an akhir itu kebanyakan cenderung didominasi oleh keluarga menengah atas. Dari situ pula, kita bisa memahami kenapa masalah biaya pendidikan menjadi isu yang sangat sensitif karena memang jumlah mahasiswa kebanyakan adalah menengah atas," katanya.
Lebih lanjut Mendiknas mengatakan, kalau fenomena ini diteruskan secara alami maka anak-anak yang miskin, yang sekarang ini dapat akses ke perguruan tinggi, akan semakin kecil pula kesempatan untuk memperbaiki tingkat kehidupan di periode mendatang. "Hal itu berbeda dengan saudara-saudara kita yang sekarang masuk di kelompok menengah atas, yang dulu miskin, tetapi punya akses ke perguruan tinggi," katanya.
Mendiknas mengungkapkan, untuk tingkat sekolah dasar (SD) hampir tidak ada gap dalam arti dapat mengenyam pendidikan SD, sedangkan untuk sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA) gap-nya agak besar. Adapun untuk jenjang pendidikan tinggi gap-nya besar. "Artinya betul bahwa yang bisa sekolah itu kecenderungannya atau yang punya kesempatan untuk sekolah semakin tinggi (jenjangnya) itu sekarang ini kondisinya dari keluarga yang cukup," katanya.
Untuk memperkecil gap ini, pemerintah, kata Mendiknas, mulai memberikan beasiswa Bidik Misi bagi 20.000 calon mahasiswa. Syarat penerima beasiswa ini, kata Mendiknas, adalah siswa miskin. "Ini yang ingin kita tutup, opportunity dari keluarga yang miskin, yang pas-pasan, kita buka dengan cara afirmatif," katanya.
Pada kesempatan ini, Mendiknas berharap Universitas Mataram dapat menumbuhkan optimisme, membangun cita-cita, dan menjadi kebun ilmu agar bisa setiap saat bisa belajar. Selain itu, sebagai rumah pembentuk kemuliaan kepribadian. "Kalau itu yang dibangun Insya Allah setiap tahun lulusan Unram bukan saja disegani masyarakat Lombok atau masyarakat Indonesia, tetapi masyarakat dunia," katanya.
|